Merajut benang-benang cinta…

 

Dimanakah… Entah dimanakah cinta itu bersembunyi. Bagai sebuah harmoni keluarga, namun sapaan tak pernah menyentuh hati, lalu egois, tinggi hati, merambat perlahan meracuni, tak sadar diri, hilang rasa empati

Menyatu dalam perbedaan memang tak mudah, merajut benang cinta dalam sebuah jama’ah kadang melelahkan jiwa. Letih, dan putus asa kadang menerpa, eksploitasi potensi pun dirasa, membuyarkan semua impian-impian indah tentang ukhuwah dan kebersamaan. Padahal sungguh dahsyat, bahkan teramat dahsyat potensi yang dimiliki setiap jiwa, namun pupus saat disatukan. Orang-orang hebat, sholeh dan pintar yang mestinya menyatu dalam rajutan benang cinta, namun bak benang-benang kusut saat dirajut, tak ada keindahan saat mata menatap, hanya membuat hati menjadi lara.

Berbeda… Bukankah itu hal yang biasa? Keragaman dalam sebuah jama’ah semestinya menjadi sumber kreativitas, dengannya kita bangun samudera kebaikan. Layaknya sebuah bangunan, pastilah tersusun dari bahan olahan yang berbeda-beda, dan itu adalah kekuatan. Puncaknya adalah sebuah gerakan yang rapi, solid dan militan dalam sebuah jama’ah hingga mampu merubah kondisi jahiliyah menjadi penuh dengan rahmat-Nya.

“Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat” (Huud: 118)

Tak semua batubata diletakkan pada posisi yang tinggi, dan tidak juga harus semuanya ada di bawah. Bahkan terkadang si tukang batu, akan memotong batubata tertentu jika dibutuhkan untuk menutupi posisi batubata yang masih kosong guna melengkapi bangunannya.

Kualitas batubata yang ingin bergabung dalam bangunanpun sudah pasti selaras dengan besarnya kebutuhan bangunan. Semakin besar dan tinggi sebuah bangunan, maka kualitas batubatanya juga harus lebih berkualitas dan menahan bobot bangunan itu.

Kunci dari semua itu adalah rajutan benang cinta pada setiap hati kita, dengannya jiwa-jiwa akan selalu bersama mewujudkan ukhuwah Islamiyah. Karena rajutan cinta pulalah, akan lahir manusia-manusia yang siap mengusung panji-panji dakwah dari berbagai latar belakang yang dibutuhkan untuk membangun masyarakat Rabbaniyah, penuh dengan curahan ridho Allah SWT.

Sudahkah membekas rabithah yang kerap kita lantunkan di pagi dan sore hari? Atau hanya sekedar rutinitas ibadah semata tanpa ada efek yang dahsyat? “Ya Allah sesungguhnya Engkau Maha Tahu bahwa hati-hati ini telah berkumpul untuk mencurahkan cinta hanya kepada-Mu, bertemu untuk taat kepada-Mu, bersatu dalam rangka menyeru be-dakwah di jalan-Mu dan berjanji setia untuk membela syariat-Mu, maka kuatkanlah rajutan benang-benang cinta kami…”

Ali bin Abi Thalib RA pernah mengatakan bahwa, kekeruhan jama’ah jauh lebih baik daripada kejernihan individu. Kecerdasan individual pun tak akan pernah dapat mengalahkan kecerdasan sebuah jama’ah. Memang benar, perbedaan bukan sesuatu yang mustahil, namun yang diharapkan walaupun mempunyai kepentingan sendiri, jangan sampai menutupi kepentingan bersama untuk menegakkan kalimat Ilahi di muka bumi. Contoh naif ketika sekelompok jama’ah saling bahu-membahu mendirikan sebuah bangunan, namun ada seorang individu yang sibuk dengan tilawahnya.

Sama saja dengan sekumpulan orang banyak, tapi mereka mempunyai orientasi dan tujuan yang berbeda-beda, tak ada ikatan yang solid diantara mereka. Meskipun mereka telah ikhlas dalam melakukannya, banyak tenaga dan upaya yang telah dilakukan, namun tetap saja pengaruhnya akan minim terhadap jama’ah.

Memang, merajut cinta dari setiap jiwa sungguh tak mudah. Namun, selama helaan nafas masih diamanahkan-Nya, bisakah kita mengingkari hati akan sebuah kefitrahan?

Sahabat… Semua potensi yang ada pada setiap jiwa hendaknya ditata dengan baik dalam harmoni sebuah jama’ah. Dari seuntai benang rajutan, akan tercipta kekokohan harokah. Perpaduan upaya masing-masing orang, satu sama lain yang memiliki ikatan dan solidaritas, arah dan orientasi untuk mencapai target bersama, menyatunya hati dalam ikatan aqidah serta semangat ukhuwah sebagai landasan terbentuknya ruhul jama’ah.

Mungkin saja ada bagian-bagian yang lemah jika dilepas satu persatu, namun akan menjadi kuat dan besar ketika dipadukan hingga seperti rajutan benang atau sebuah bangunan yang kokoh dan saling merekatkan.

Mari rapatkan barisan dan luruskan shaf, rajut kembali benang-benang cinta diantara kita, karena kita semua adalah jiwa baru yang mengalir di tubuh umat, yang menghidupkan tubuh yang mati itu dengan Al Qur’an & Sunnah (antum ruhun jadidah tarsi fii jaasadil ummah, Hasan Al-Banna).

Rasakan detak jantungmu sahabat, siapkan diri menyambut kemenangan yang telah dijanjikan, hunus kesabaran serta kelapangan pada setiap rongga dada, torehkan semangat jihad dengan limpahan iman, bergelombang dan bergerak senada menuju cinta Allah SWT, ALLAHU AKBAR!!!

Siapapun takkan pernah bisa bertahan

Melalui jalan dakwah ini

Mengarungi jalan perjuangan

Kecuali dengan kesabaran

Wahai ummat Islam bersatulah

Rapatkan barisan jalin ukhuwah

Luruskan niat satukan langkah

Kita sambut kemenangan

Dengan bekal iman maju ke hadapan

Al Qur’an dan Sunnah jadi panduan

Sucikan diri ikhlaskan hati

Menggapai ridho Ilahi

Dengan persatuan galang kekuatan

Panji Islam kan menjulang

Tegak kebenaran hancur kebathilan

Gemakan takbir ALLAHU AKBAR!!!

(Senandung Persatuan-Izzatul Islam)

http://mayapuspitasari.wordpress.com/2008/12/01/merajut-benang-benang-cinta/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s