Jalan sunyi para pejuang

Hanya ada dia dan Rabbnya. Tidak ada yang lain yang menyertainya. Ia sendiri. Sepi. Di tepian malam yang sunyi. Itulah jenak – jenak tempat para pejuang menghimpun energi langit untuk disemai di muka bumi. Itulah bentaran saat dimana ia kembali kepada ruhnya. Melihat bangunan keimanannya yang sudah mulai sedikit terkoyah. Melihat Lebih dalam. Lebih dekat. Lebih cermat.

Di sunyi itu, bersama Rabbnya, ia kembali meyusun ulang bangunan keimanannya menjadi bangunan iman yang megah, indah, mempesona. Di malam itu ia bermi’raj menghadap Tuhannya. Bukan sekedar pertemuan biasa. Itulah saat jiwa bertemu dengan Tuhannya jiwa. Itulah saat ruh bertemu dengan sang Pemilik Ruh. Syahdu. Mengharu biru. Di sinilah awal mula cerita indah jiwa – jiwa yang tercerahkan.

Inilah majelis sunyi para pejuang. Inilah halaqoh cinta para pecinta. Qiyamullail. Para pejuang dakwah senantiasa merutinkan ia sebagai amalan yang tiada pernah terputuskan. Mereka sadar, Dakwah adalah jalan berat yang harus dilalui oleh para pejuang Keadilan. Di perjalanan berat nan panjang itu, salah satu sumber energi dahsyat sebagai bekal perjuangannya adalah qiyamullail. Perjuangan tidak selalu bercerita tentang kekuatan fisik. Seberapa banyak sahabat nabi dari kalangan tua dan lemah dari segi fisik namun mereka berada dalam barisan depan dalam jihad fi sabilillah. Sebaliknya, seberapa banyak pula kaum muslimin (munafiq) yang kuat fisiknya namun tak mampu menggerakkan kakinya menuju arena jihad. Perjuangan selalu bertutur tentang kekuatan ruh dan keimanan. Dan sumber terbesar kekuatan itu berada dalam saat – saat sunyi di akhir malam.

Sebelum Rasulullah diberi mandat untuk menyeru kaumnya secara terang – terangan melalui Al Mudatstsir, jauh sebelumnya Allah telah menurunkan Al Muzammil sebagai bekal dan training Allah SWT kepada sang Rasul. Allah tidak memberi persiapan Rasul dengan teori retorika sehingga dengan gaya bahasanya bisa mengikat kaum quraisy di mekkah pada saat itu. Tidak juga Allah memberi bekal harta yang banyak sehingga memberinya kedudukan tinggi diantara kaumnya. Bukan. Bukan ini. Trainming itu bernama Al Muzzammil. Ia adalah training persiapkan secara khusus kepada sang Rasul oleh Allah SWT melalui Qiyamullail dan Tilawah Al Quran.

Hai orang yang berselimut (Muhammad), bangunlah (untuk sembahyang) di malam hari, kecuali sedikit (daripadanya), (yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit. atau lebih dari seperdua itu. dan bacalah Al Quran itu dengan perlahan-lahan. Sesungguhnya Kami akan menurunkan kapadamu Perkataan yang berat. (QS. Al Muzzammil 1 – 5)

Sebab Allah akan menurunkan ‘perkataan yang berat’. Perkataan yang berbobot. Perkataan yang menusuk hati. Maka dibutuhkan ruh yang kuat untuk para pengembannya. Semakin kuat ruhnya, semakin banyak ‘perkataan berat’ yang mampu ia bawa dan ia sampaikan. Jika ruhnya kering dan lemah, bagaimana ia mampu membawa ‘perkataan berat’ untuk disampaikan dan didakwahkan? Kata – katanya menjadi kosong. Tidak memiliki ruh. Kering. Hampa tanpa makna. Dan mungkin inilah ‘bobot’ kata – kata kita saat ini. Kosong tanpa ruh. Sedangkan tempat untuk mengisi kekuatan Ruh dan menjemput ‘perkataan yang berat’ itu lebih nyaman kita habiskan untuk tidur atau begadang yang sia – sia. Maka ketika seruan kita jarang mendapatkan respon dari orang yang kita seru, jangan melulu menyalahkan mereka. Jangan – jangan saking ‘kering’nya perkataan kita, perkataan itu tidak sampai ke hati mad’u, tapi terbang hilang tertiup angin yang semilir. Wallahu a’lam.

(Dody Arief Krisnawan)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s